Friday, August 21, 2020

Dibalik Metamorfosis


Beberapa hari yang lalu aku menerima salinan buku pertamaku yang berjudul Metamorfosis. Setelah mengerjakannya selama lebih dari 17 bulan melewati banyak suka duka, aku bersyukur apa yang awalnya hanya sebuah ide dan mimpi kini menjadi kenyataan. Buku ini mengingatkanku bahwa tidak ada yang mustahil. Apapun yang kita impikan bisa saja menjadi nyata asal mau mencoba, bekerja keras, konsisten, dan tidak mudah menyerah. Kenapa menulis buku? Jawabannya sederhana, ya karena hobi. Sebuah passion yang begitu beruntung aku temukan sejak kecil. Menulis bagiku selalu terasa seperti ada di rumah sendiri. Nyaman, hangat, tempat teraman di mana aku bisa menumpahkan segala ide, harapan, mimpi, keluh kesah, pertanyaan, dsb. Dari kecil selalu bercita-cita ingin menulis buku tapi aku tidak pernah benar-benar mewujudkannya hingga perjalananku ke Bhutan dan Sumba di tahun 2019. Di sana aku diingatkan kembali tentang kesederhanaan hidup, arti dari bersyukur, seni kecukupan, hingga berbagi dengan sesama. Menyadari betapa beruntungnya diriku bisa melakukan hal yang aku suka dan selalu dikelilingi orang-orang terbaik akhirnya menyisakan satu pertanyaan; bagaimana caranya aku bisa berbagi dan membantu mereka yang mungkin juga punya mimpi atau keinginan tapi tidak tahu bagaimana mewujudkannya. Aku percaya untuk berbagi, membuat perubahan positif, atau memberikan kembali tidak perlu selalu dalam bentuk besar. Bisa jadi lewat hal kecil dan dimulai dari diri sendiri. Berkaryalah. Lakukan apa yang membuat hatimu senang. Dan jika dengan melakukan hal tersebut kau bisa menginspirasi atau membantu seseorang, maka itu jauh lebih dari cukup. Itulah arti sukses untukku.

Kenapa Metamorfosis?
Metamorfosis adalah sebuah perayaan hidup, mimpi, cinta, dan harapan. Perjalanan tentang mencintai diri sendiri dan keberanian untuk mengejar mimpi. Mengambil resiko dan bangkit lagi setelah gagal. Pelajaran untuk melepaskan, percaya pada segala rencana hidup, dan menikmati setiap proses. Seperti kupu-kupu yang melalui proses metamorfosis, begitu pula dengan manusia. Setiap halaman di buku ini menceritakan kembali perjalanan hidup beberapa orang yang menginspirasiku. Mereka yang kehilangan orang terdekat, pernah patah hati, gagal, atau bingung harus berbuat apa dalam hidup. Mereka yang berani keluar dari zona nyaman dan mengejar mimpi walau itu artinya harus melepaskan dan mengambil resiko.

Aku menuliskan buku ini dengan harapan semoga bisa membantu atau menginspirasi seseorang di luar sana yang mungkin membutuhkan alasan untuk tetap berjuang dan tidak menyerah. Sama seperti hidup dan orang-orang terdekatku yang selalu mengajari dan menginspirasi untuk terus belajar menjadi yang terbaik. Untuk mengejar mimpi, terus berbagi, berkarya, dan menghargai hal kecil.

Kalau lihat buku ini jadi ingat dalam proses penulisan ada banyak rasa ragu, takut, patah semangat, ingin nyerah, nggak percaya diri, capek, bingung, dan frustrasi. Muncul banyak pertanyaan seperti siapa yang akan menerbitkan buku ini? Siapa yang akan membaca? Bagaimana kalau ternyata orang tidak suka? Bagaimana kalau aku tidak bisa menyelesaikannya dan gagal? Tapi… bagaimana kalau proses penulisan buku ini sebenarnya tentang keberanian dan komitmen untuk muncul dan terus mencoba setiap hari? Keberanian untuk menemukan momen kecil, menikmati kesederhanaan hidup, dan merayakan setiap kemajuan yang ada di depan mata. Tanpa rasa sesal di masa lalu atau obsesi tentang masa depan.

Dibalik rasa takut juga ada rasa yakin kalau mengerjakan sesuatu dengan niat baik, cinta, dan sepenuh hati maka hidup pasti mendukung. Pasti ada aja jalannya. Menulis 300 halaman jelas bukan hal yang mudah. Awalnya aku punya goal untuk menyelesaikan buku ini dalam waktu tiga bulan, tapi di luar dugaan menulis tidak semudah yang aku kira. Butuh riset, latihan, banyak baca buku dan persiapan. Aku mengalami hari-hari di mana aku bisa menulis lebih dari 5 halaman, produktif, dan penuh ide juga hari di mana aku tidak bisa bangun dari tempat tidur, takut, ragu, apapun yang aku kerjakan seperti tidak masuk akal. Tidak cukup baik. Namun setiap kali ingin menyerah, aku mencoba mengingat kembali sudah seberapa jauh aku melangkah dan alasan terbesar kenapa aku menulis buku ini. Nggak apa-apa kalau hari ini hanya bisa menulis beberapa kata, satu paragraf, atau satu halaman. Yang penting selalu konsisten, tekun, dan besok bisa coba lagi. Mungkin aku tidak perlu melihat gunung besar yang ada di hadapanku, cukup perlu mengambil satu langkah ke depan. Selangkah demi selangkah. Sehari demi sehari. Pelan-pelan, sabar, dan tidak meremehkan apa yang kelihatannya hanyalah awal yang kecil kalau dilakukan dengan konsistensi kelak akan membawa kita pada kesempatan yang lebih besar lagi. Mengingatkanku pada saat aku mulai blogging sekitar 8 tahun yang lalu. Bermula dari blog post kecil lalu tumbuh keberanian untuk menulis artikel. Setelah berhasil menulis artikel untuk beberapa majalah besar akhirnya tumbuhlah rasa percaya diri untuk menulis buku. Walau aku tidak tahu siapa yang akan membaca karya kecil ini tapi yang penting aku sudah mencoba. Sudah muncul setiap hari untuk memberikan yang terbaik.

Salah satu hal terbaik dari menulis buku ini adalah menyaksikan hampir setiap hari bagaimana hidup memberiku kekuatan, kesabaran, dan inspirasi untuk terus mencoba bahkan di waktu aku merasa ingin menyerah. Bahkan ketika sesuatu berjalan di luar rencana atau aku merasa terjebak, aku menemukan cara terbaik untuk bangkit lagi adalah lewat kreatifitas dan berkarya. Lewat kreatifitas, aku belajar untuk lebih fully present. Ketika kita mulai berkreasi lagi dengan tangan, kita tidak hanya menciptakan sesuatu yang indah atau menarik tapi kita juga berhubungan kembali dengan hati dan pikiran.  Kita jadi lebih fokus dan tidak lagi memikirkan masalah atau apapun yang terjadi di luar sana. Kreatifitas dan karya seniku mengingatkanku bahwa meski ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan penuh tapi kita selalu bisa mengendalikan cara kita merespon sesuatu. Saat ditolak penerbit atau gagal dalam hidup, aku memutuskan mungkin aku tidak bisa mengendalikan cara orang menerima hasil karyaku tapi aku selalu punya kendali penuh untuk terus berkreasi dengan sepenuh hati lalu membiarkan kerja kerasku yang bicara. Di akhir hari aku percaya setiap usaha, kerja keras, dan pengorbanan tidak akan pernah terbuang percuma dan pasti akan terbayarkan. Aku berhak untuk tumbuh dan segala usaha yang sudah aku lakukan selalu cukup. Lebih dari cukup

Siapa sangka menulis buku ini mengajarkanku banyak hal tidak saja tentang hidup tapi juga mengenal diriku sendiri. Mulai dari hal yang paling kecil seperti membangun konsistensi, ketekunan, hingga menikmati waktu dan percaya pada proses tanpa buru-buru ingin cepat sampai ke tujuan. Menulis juga mengajarkanku untuk berani melepaskan sesuatu yang mungkin sudah tidak baik lagi dan percaya ada hal yang lebih baik lagi di luar sana. Berani mengambil resiko, melakukan hal yang sulit, terus bangkit dan mencoba lagi bahkan setelah gagal atau ditolak berkali-kali. Belajar untuk menjadi lebih sabar dengan diri sendiri, berani menerbitkan buku ini walau isinya jauh dari sempurna. Sekali lagi, ini bukan tentang kesempurnaan tapi keberanian untuk mencoba dan muncul setiap hari untuk memberikan yang terbaik.

Meskipun ada banyak hal yang sudah aku rencanakan dan persiapkan di tahun ini sayangnya harus batal atau tidak terjadi, tapi aku bersyukur Tuhan masih menyisakan satu hal besar untukku dan mengizinkanku untuk mengerjakan buku ini dari awal hingga selesai. Mulai dari menulis, riset, edit, desain sampul, promosi, hingga bikin konten…aku bersyukur setiap hari diberikan kesempatan dan kebebasan untuk berkarya. Untuk merayakan hidup dan menyaksikan mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Walaupun prosesnya tidak mudah tapi aku bangga bisa menyelesaikan apa yang sudah aku mulai dan akhirnya…aku berharap semoga kalian bisa menikmati buku ini.

Semoga Metamorfosis bisa memberikan sedikit kenyamanan, pelajaran, atau inspirasi untuk mengejar mimpi. Kalau ragu harus mulai dari mana, mulailah dengan apapun yang kalian punya. Kita tidak akan pernah tahu sejauh apa kita bisa melangkah di saat kita memutuskan untuk berani mencoba. Belakangan ini aku melihat banyak orang yang mengalami masa sulit. Ada yang kehilangan anggota keluarga atau orang terdekat, pekerjaan, takut menghadapi ketidakpastian, banyak juga yang merasa ragu dengan kemampuan diri sendiri dan tidak cukup kuat untuk melangkah maju. Ada hari-hari di mana kita bisa maju dua langkah ke depan dan optimis, ada juga hari di mana kita bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Bersabarlah. Kalaupun hari ini kau menemukan dirimu tidak bisa melakukan apa-apa, merasa berat untuk melangkah…it’s okay my love, take your time…pelan-pelan aja. Tarik nafas, besok kita coba lagi. Walaupun saat ini segalanya kelihatan tidak masuk akal dan berat, entah kapan masalah ini akan selesai, tapi satu hal yang pasti di dunia ini tidak ada yang permanen. Cepat atau lambat, badai pasti berlalu.

No comments:

Post a Comment